Sunday, April 8, 2012

Pembelajaran Tuntas

Pembelajaran Tuntas

Pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah.

Belajar tuntas merupakan pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari (Ramayulis, 2005:193).

Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Dalam hal pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar.

Belajar tuntas berdasar pada beberapa premis, diantaranya:
1).Semua individu dapat belajar
2).Orang belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda
3).Dalam kondisi belajar yang memadai, dampak dari perbedaan individu hampir tidak ada
4).Kesalahan belajar yang tidak dikoreksi menjadi sumber utama kesulitan belajar.

Menurut Benyamin S. Bloom (Ramayulis,194:1990) ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam belajar tuntas yaitu:
  1. Menentukan unit pelajaran (dipecah untuk setiap satu dua minggu).
  2. Merumuskan tujuan pengajaran (secara khusus dan terukur).
  3. Menentukan standar ketuntasan (patokan berupa persentase).
  4. Menyusun dianostik test, test formatif sebagai dasar umpan balik.
  5. Mempersiapkan seperangkan tugas untuk dipelajari.
  6. Mempersiapkan seperangkat pengajaran korektif (bagi peserta didik yang lemah).
  7. Pelaksanaan pengajaran biasa (group based instruction).
  8. Evaluasi sumatif, (apabila selesai satu unit).
Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Benyamin S. Bloom di atas meliputi tiga bagian, yaitu:
  • Mengidentifikasi prakondisi
  • Mengembangkan prosedur operasional
  • Hasil belajar
Strategi tersebut diimplementasikan dalam sistem pembelajaran klasikal maupun individual dengan memberikan bumbu sesuai dengan taraf kemampuan individu peserta didik berupa corrective technique, semacam pengajaran remedial, yang dilakukan dengan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dengan sebelumnya. Memberikan tambahan waktu kepada tambahan waktu kepada peseta didik yang membutuhkan (belum menguasai bahan secara tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas terutama dalam hal-hal sebagai berikut:
1).Pelaksanaan test secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test).
2).Peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditetapkan.
3).Pelayanan bimbingan dan penyuluhan terhadap anak didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran korektif, yang merupakan pengajaran kembali, pengajaran tutorial, restrukturasi, kegiatan balajar dan pengajaran kembali kebiasaan-kebiasaan belajar peserta didik, sesuai dengan waktu yang diperlukan masing-masing.

Sumber:
Depdiknas. 2008. Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tuntas (Mastery-Learning) Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Sekolah.
Block, James H. (1971). Mastery learning: Theory and practice. New York : Holt, Rinehart and Winston, Inc.

0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot