Wednesday, June 15, 2011

Model Pembelajaran Van Hiele

Model Pembelajaran Van Hiele

Teori van Hiele pertama kali dikembangkan oleh Pierre Marie van Hiele dan Dina van Hiele-Geldof dalam disertasi yang terpisah di Universitas Utrecht pada tahun 1957.  Teori ini menjelaskan mengenai perkembangan berpikir siswa dalam belajar geometri.  Dalam teori tersebut, mereka ber-pendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami per-kembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu.  Teori pem-belajaran van Hiele telah diakui secara internasional.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa pembel-ajaran dengan teori van Hiele memberikan dampak yang positif dalam pembelajaran geometri.  Susiswo (http://abdussakir.wordpress.com) me-nyimpulkan pembelajaran model van Hiele lebih baik diterapkan pada pembelajaran geometri.  Senk (http:/abdussakir.wordpress.com) menyata-kan, “prestasi siswa SMU dalam menulis pembuktian geometri berkaitan secara positif dengan teori van Hiele.”  Husnaeni (http://abdussakir.word-press.com) menyatakan bahwa penerapan model van Hiele efektif untuk peningkatan penguasaan konsep siswa.

Teori van hiele memiliki tiga aspek, yaitu adanya tahap-tahap perkem-bangan berpikir geometri, karakteristik teori van Hiele dan perpindahan dari level satu ke level berikutnya. Menurut teori, ada lima tahap perkembangan berpikir geometri yaitu:
Level 0: (Recognition) Siswa dapat menyebutkan nama sebuah gambar dan mengenal bangun-bangun secara menyeluruh.
Level 1: (analysis) Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat dari suatu bangun.
Level 2: (Order) Siswa dapat menghubungkan sifat-sifat suatu bangun tetapi belum dapat menggunakan penalaran matematik deduktif.
Level 3: (Deduction) Siswa mengerti secara signifikan dari penalaran deduktif dan dapat memahami postulat, teorema dan aksioma aksioma.
Level 4: (Rigour) Siswa memahami sesuatu penalaran deduksi secara abstrak.  Pada tingkat ini, siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri selain geometri euclid.
Usiskin (1982: 4)
 
Usiskin (1982: 5) juga menyebutkan: “Karakteristik Teori van Hiele, yaitu (1) tahap-tahap tersebut bersifat hierarki dan berurutan, (2) konsep yang dipahami secara implisit pada suatu tahap akan dipahami secara ekplisit pada tahap berikutnya (3) setiap tahap mempunyai kosakata dan sistem relasi sendiri-sendiri. (4) mismacth, yakni jika seseorang berada pada suatu tahap dan tahap pembelajaran berada pada tahap yang berbeda. Secara khusus yakni jika guru, bahan pembelajaran, isi, kosakata dan lainnya berada pada tahap yang lebih tinggi daripada tahap berpikir siswa.”
 
Setiap tahap dalam teori van Hiele, menunjukkan karakteristik proses berpikir siswa dalam belajar geometri dan pemahamannya dalam konteks geometri.  Kualitas pengetahuan siswa tidak ditentukan oleh akumulasi pengetahuannya, tetapi lebih ditentukan oleh proses berpikir yang diguna-kan.  Tahap-tahap berpikir van Hiele akan dilalui siswa secara berurutan.  Dengan demikian, siswa harus melewati suatu tahap dengan matang se-belum menuju tahap berikutnya.  Kecepatan berpindah dari suatu tahap ke tahap berikutnya lebih banyak bergantung pada isi dan metode pembelajar-an daripada umur dan kematangan.  Dengan demikian, guru harus menye-diakan pengalaman belajar yang cocok dengan tahap berpikir siswa.

Crowley (http://abdussakir.wordpress.com) menyatakan: “Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah), yaitu; informasi (information), orientasi langsung (directed-orientation), penjelasan (explanation), orientasi bebas (free orientation), dan integrasi (integration).”
 
Contohnya sebagai berikut.
Fase 1 : Informasi (information)
Pada awal fase ini, guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkut-an.  Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan obser-vasi untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki siswa dalam mengenai topik yang dibahas.  Hal ini juga berguna menentukan langkah pembelajaran apa yang seharusnya yang akan diambil.
Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation)
Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru.  Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini.  Jadi, alat ataupun bahan harus dirancang dengan baik sehingga dapat mendatangkan repon khusus.
Fase 3 : Penjelasan (explication)
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi.  Di samping itu untuk guru membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat untuk menjelaskan mengenai apa yang baru diamati.
Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation)
Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah, tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara penyelesaiaan atau jawaban (open-ended).  Mereka memperoleh pe-ngalaman dalam menemukan cara mereka sendiri, maupun dalam me-nyelesaikan tugas-tugas.
Fase 5 : Integrasi (Integration)
Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aktivitas-aktivitas yang dapat digunakan untuk tiga tahap pertama, yaitu tahap 0 sampai tahap 2 menurut Crowley dan Walle (http:// abdussakir.wordpress.com).

1. Aktivitas Tahap 0 (Visualisasi)
Pada tahap 0 ini, bangun-bangun geometri diperhatikan berdasarkan pe-nampakan fisik sebagai suatu keseluruhan.  Aktivitas untuk tahap ini an-tara lain sebagai berikut.
1).Melibatkan penggunaan model fisik yang dapat digunakan siswa untuk manipulasi, mewarna, melipat dan mengkonstruk bangun geometri.
2).Melibatkan kegiatan memilih, suatu gambar sederhana, dalam kum-pulan potongan bangun, atau alat peraga yang lain, dalam berbagai orientasi, melibatkan obyek-obyek fisik lain di dalam kelas, rumah, atau tempat lain
3).Membuat bangun dengan menjiplak gambar pada kertas bergaris, menggambar bangun, dan mengkonstruk bangun. Dan mendeksripsi-kan bangun-bangun geometri dan mengkonstruk secara verbal menggunakan bahasa baku atau tidak baku, misalnya kubus “seperti pintu atau kotak.”.
4).Mengerjakan masalah geometri yang  dapat dipecahkan dengan me-nyusun, mengukur, dan menghitung.
 
2. Aktivitas Tahap 1 (Analisis)
Pada tahap 1 ini siswa diharapkan dapat mengungkapkan sifat-sifat bangun geometri.  Aktivitas untuk tahap ini antara lain sebagai berikut.
1).Menggunakan model-model pada tahap 0, terutama pada model-model yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi bebagai sifat bangun.
2).Membandingkan bangun-bangun berdasarkan karakteristik sifat-sifat-nya.
3).Mengidentifikasi dan menggambar bangun yang diberikan secara verbal atau diberikan sifat-sifatnya secara tertulis.
4).Mengidentifikasi sifat-sifat yang dapat digunakan untuk mencirikan atau mengkontraskan kelas-kelas bangun yang berbeda.
5).Menemukan sifat objek yang tidak dikenal.
6).Menyelesaikan masalah geometri yang dapat mengarahkan untuk mengetahui dan menemukan sifat-sifat suatu gambar, relasi geometri, atau pendekatan berdasar wawasan.

3. Aktivitas Tahap 2 (Deduksi Informal)
Pada tahap 2 ini siswa diharapkan mampu mempelajari keterkaitan antara sifat-sifat dan bangun geometri yang dibentuk.  Aktivitas siswa untuk tahap ini antara lain sebagai berikut.
1.    Mempelajari hubungan yang telah dibuat pada tahap 1, dan membuat implikasi.
2.    Mengidentifikasi sifat yang perlu dan cukup untuk kondisi bangun.
3.    Membuat dan menggunakan definisi dengan bahasanya sendiri.
4.    Mengikuti argumen-argumen informal dan menyajikan argumen informal.
5.    Mengikuti argumen deduktif, mungkin dengan menyisipkan langkah-langkah yang kurang.
6.    Melibatkan kerjasama dan diskusi yang mengarah pada pernyataan dan konversnya.
7.    Menyelesaikan masalah yang menekankan pada pentingnya sifat-sifat gambar dan saling keterkaitannya.

Aktivitas pembelajaran untuk pengenalan konsep-konsep geometri di tingkat SMA dapat dimulai dari tahap 0, tahap 1 sampai tahap 3.  Seperti yang dijelaskan oleh Burger and Shaughnessy (dalam Genz, 2006:1) bahwa tingkat berpikir siswa SMA bisa mencapai tahap deduksi formal. Namun karena mempertimbangkan materi SMK yang tingkat kesulitannya sama dengan materi SMP maka, penelitian ini membatasi tahap pemikiran geometri sampai pada tahap 2.  Hal ini juga didukung oleh pada pendapat Walle (http://abdussakir.wordpress.com) bahwa sebagian besar siswa sekolah menengah umum hanya dapat berada pada tahap 0 sampai tahap 2.  

0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot