Monday, April 18, 2011

Belajar Matematika

Belajar Matematika

Beberapa ahli dalam dunia pendidikan memberikan definisi belajar secara berbeda, namun pada prinsipnya mempunyai maksud yang sama, seperti yang dinyatakan oleh Hamalik (2002:37), bahwa ”Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku pada diri sendiri berkat pengalaman dan latihan.”  Pengalaman dan latihan terjadi melalui interaksi antar individu dan lingkungannya, baik lingkungan alamiah maupun lingkungan sosialnya.  Hal ini sejalan dengan pernyataan Sardiman (2004:20) bahwa ”Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mende-ngarkan, meniru, dan lain sebagainya.”  Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penam-bahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri.  Sedangkan Gagne (dalam Slameto, 2003: 13) bahwa:
 “1.      Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaaan dan tingkah laku;
2.     Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.”

Pendapat serupa dikemukakan Hudoyo (1988 : 107) mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru sehingga timbul perubahan tingkah laku, misalnya se-telah belajar, seorang mampu mendemonstrasikan dan keterampilan di-mana sebelumnya siswa tidak dapat melakukannya. 


Selanjutnya Anwar (1990 : 98) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan dari setiap tingkah laku yang merupakan pendewasaan, pematangan atau yang disebabkan oleh suatu kondisi dari organisme. Belajar merupakan proses individu siswa dalam interaksinya dengan lingkungan, sehingga menyebabkan terjadinya proses tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungan tersebut.
 Perubahan tingkah laku yang terjadi dalam individu banyak sekali  sifat dan jenisnya.  Oleh karena itu,  tidak semua perubahan dalam diri individu. dikatakan perubahan dalam arti belajar.  Ciri-ciri tertentu dari suatu perubahan  dalam arti belajar menurut Slameto (2003:3) menyatakan:
  “1) Perubahan terjadi secara sadar.
    2) Perubahan dalam belajar  bersifat kontinu dan fungsional.
    3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
    4) Perubahan dalam belajar  bukan bersifat sementara.
    5) Perubahan dalam belajar bertujuan terarah.
    6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.”

Berdasarkan pendapat di atas, dapat diartikan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan secara sadar, bersifat kontinu baik dalam hal tingkah laku ataupun pengetahuan yang mempunyai tujuan terarah sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya.  

Salah satu sarana untuk mencapai perubahan-perubahan seperti yang dikemukakan diatas adalah melalui belajar matematika.  Matematika sendiri merupakan ilmu yang sangat penting dan dibutuhkan dalam proses belajar maupun dalam kehidupan sehari-hari.  Matematika merupakan ilmu uni-versal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin, dan memajukan daya pikir manusia.  Matematika perlu diberikan kepada semua siswa untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.  Hal ini sejalan dengan definisi matema-tika yang dikemukakan Paling (dalam Abdurrahman, 2003: 252) bahwa
”Matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban ter-hadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan. Ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing.”

Matematika adalah ilmu pengetahuan struktur dan hubungan-hubungannya, simbol-simbol diperlukan, matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif (Hudoyo, 1988: 3). Menurut Nasution dalam (Sugiarto, 1990: 8), bahwa matematika dapat dipandang sebagai suatu ide yang dihasilkan oleh ahli-ahli matematika dan objek penalarannya dapat berupa benda-benda atau makhluk, atau dapat dibayangkan dalam alam pikiran kita. Pengertian lain yang dikemukakan oleh Sutrisman dan Tambuan (1987: 2-3) bahwa matematika adalah pengetahuan tentang kuantitas ruang, salah satu dari sekian banyak cabang ilmu yang sistematis, terstruktur dan eksak.

Dalam proses belajar mengajar matematika, seorang siswa tidak dapat mengetahui jenjang yang lebih tinggi tanpa melalui dasar atau hal-hal yang merupakan prasyarat dalam kelanjutan program pengajaran selanjutnya. Untuk mempelajari matematika dituntut kesiapan siswa dalam menerima pelajaran, kesiapan yang dimaksud adalah kematangan intelektual dan pengalaman belajar yang telah dimiliki oleh anak, sehingga hasil belajar lebih bermakna bagi siswa. 


Hudoyo (1988 : 4) berpendapat bahwa “belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu proses belajar “. Pendapat serupa dikemukakan Russeffendi (1988 : 25) bahwa belajar matematika bagi seorang anak merupakan proses yang kontinu sehingga diperlukan pengetahuan dan pengertian dasar matematika yang baik pada permukaan belajar untuk belajar selanjutnya. Proses belajar matematika haruslah diawali dengan mempelajari konsep-konsep yang lebih mendalam dengan menggunakan konsep-konsep sebelumnya atau dengan kata lain bahwa proses belajar matematika adalah suatu rangkaian kegiatan belajar mengajar dalam interaksi hubungan timbal balik antara siswa dengan guru yang ber-langsung dalam lingkungan yang ada disekitarnya untuk mencapai tujuan tertentu. 


Matematika sebagai salah satu pelajaran yang diberikan di setiap jenjang pendidikan memiliki banyak definisi.  Menurut Soedjadi (1999: 11) mate-matika memiliki beberapa definisi yaitu:
   ”1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorga-nisir.
    2)  Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan ber-hubungan dengan bilangan.
    3)  Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
    4)  Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
    5)  Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
    6)  Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.”

Soedjadi (1999:13) mengemukakan beberapa karakteristik matematika yaitu:
”a. Memiliki objek kajian abstrak.
 b. Bertumpu pada kesepakatan.
 c. Berpola pikir deduktif.
 d. Memiliki simbol yang kosong dari arti.
 e. Memperhatikan semesta pembicaraan.
 f.  Konsisten dalam sistemnya.”


Belajar Matematika sendiri memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dengan belajar secara umum.  Dalam belajar matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, dimulai dari hal yang konkrit menuju abstrak. Belajar matematika juga melibatkan struktur hierarki yang mempunyai tingkatan lebih tinggi dan dibentuk atas dasar pengalaman yang sudah ada sehingga belajar matematika harus terus-menerus dan berurutan karena belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu pemahaman terhadap materi yang dipelajari.  Hal ini sesuai dengan pendapat  Dienes (dalam Agustina, 2009: 8) bahwa
”Belajar matematika melibatkan suatu struktur hierarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk sebelumnya.  Belajar matematika pada konsep yang lebih tinggi tidak mungkin bila prasyarat yang mendahului konsep-konsep itu belum dipelajari.”

Dengan demikian, untuk dapat menguasai materi pelajaran matematika pada tingkat kesukaran yang lebih tinggi diperlukan penguasaan materi tertentu sebagai pengetahuan prasyarat.  Penguasaan yang tinggi akan dapat dimiliki siswa dalam mempelajari matematika bila guru tidak hanya menuntut siswanya untuk menghafal rumus saja, tetapi lebih penting adalah memberikan pemahaman yang penuh terhadap konsep-konsep yang disampaikan.

Berdasarkan Pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa Belajar Matematika adalah proses dalam diri siswa yang hasilnya berupa perubahan pengetahuan, sikap, keterampilan dan untuk menerapkan konsep-konsep, struktur dan pola dalam matematika sehingga menjadikan siswa berfikir logis, kreatif, sistematis dalam kehidupan sehari-hari. Belajar matematika akan lebih berhasil bila mengarah pada pengembangan berfikir, pe-ngembangan konsep atau ide-ide terdahulu yang dipersiapkan untuk mempelajari dan menguasai konsep baru.

0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot