Friday, February 19, 2010

Resiko dan Dampak Dari Mengkonsumsi Tanaman Transegik

Resiko dan Dampak Dari Mengkonsumsi Tanaman Transegik

Rekayasa Genetika (RG), merupakan salah satu teknologi baru dalam bidang biologi. Salah satu produk RG yang dikenal saat ini adalah tanaman transgenik. Tanaman ini dihasilkan dengan cara mengintroduksi gen tertentu ke dalam tubuh tanaman sehingga diperoleh sifat yang diinginkan. Jenis-jenis tanaman transgenik yang telah dikenal diantaranya tanaman tahan hama, toleran herbisida, tahan antibiotik, tanaman dengan kualitas nutrisi lebih baik, serta tanaman dengan produktivitas lebih tinggi.                

Perkembangan teknologi tanaman transgenik mengalami peningkatan cukup pesat. Pada awal tahun 1988, baru ada sekitar 23 jenis tanaman transgenik yang diproduksi. Namun pada tahun 1989, terjadi peningkatan menjadi 30 tanaman dan tahun 1990 terdapat 40 tanaman.   Akan tetapi meskipun perkembangannya cukup pesat, terdapat berbagai kekhawatiran masyarakat terhadap tanaman transgenik. Seperti kita ketahui bahwa, ”tidak ada teknologi tanpa resiko”, dan memang masih banyak kelemahan yang harus diperbaiki dan dikontrol dalam pengembangan tanaman transgenik ini. Beberapa kekhawatiran tersebut diantaranya: 

1. Kekhawatiran bahwa tanaman transgenik menimbulkan keracunan 
Masyarakat mengkhawatirkan bahwa produk transgenik berupa tanaman tahan serangga yang mengandung gen Bt (Bacillus thuringiensis) yang berfungsi sebagai racun terhadap serangga, juga akan berakibat racun pada manusia. Dalam artikel ini, kehawatiran ini disanggah dengan pendapat bahwa gen Bt hanya dapat bekerja aktif dan bersifat racun jika bertemu dengan reseptor dalam usus serangga dari golongan yang sesuai  virulensinya. Sebagai contoh gen Cry I pada Bt hanya kompatibel terhadap serangga golongan Lepidoptera, sedangkan gen Cry III kompatibel terhadap serangga golongan Coleoptera. Selain itu, gen-gen tersebut hanya dapat berfungsi pada usus serangga yang berpH basa. Sedangkan pada usus manusia, tidak terdapat reseptor gen Bt dan memiliki pH usus yang bersifat asam. Dengan demikian, penulis artikel ini berpendapat bahwa tanaman yang mengandung Bt Toxin merupakan pestisida alami yang aman bagi serangga, hewan dan manusia.  Dalam hal ini, pendapat penulis belum cukup kuat  karena masih didasarkan atas asumsi, dan tidak menyodorkan referensi ilmiah yang mendukungnya. Padahal, banyak artikel lain yang juga mengulas hal serupa dan bersifat kontradiktif terhadap keberadaan tanaman transgenik, justru didukung oleh data-data ilmiah. Sebagai contoh penelitian Fares dan El Sayed (1998), melakukan percobaan memberi makan tikus dengan kentang transgenik Bt var. Kurstaki Cry 1. Hasil yang diperoleh ternyata memperlihatkan  gejala villus ephitelial cell hypertrophy, multinucleation,  disrupted microvili, degenerasi mitokondrial, peningkatan jumlah lisosom, autofagic vacuoles, serta pengaktifan crypt paneth cell.


2. Kekhawatiran terhadap kemungkinan alergi

Sekitar  1-2% orang dewasa dan 4-6% anak-anak mengalami alergi terhadap makanan. Penyebab alergi (allergen) tersebut diantaranya brazil nut, crustacean, gandum, ikan, kacang-kacangan, dan padi. Konsumsi produk makanan dari kedelai yang diintroduksi dengan gen penghasil protein metionin dari tanaman brazil nut, diduga menimbulkan alergi terhadap manusia. Hal ini diketahui lewat pengujian skin prick test yang menunjukkan bahwa kedelai transgenik tersebut memberikan hasil positif sebagai allergen. Dalam artikel ini, penulis berpendapat bahwa alergi tersebut belum tentu disebabkan karena konsumsi tanaman transgenik. Hal ini dikarenakan semua allergen merupakan protein sedangkan semua protein belum tentu allergen. Allergenmemiliki sifat stabil dan membutuhkan waktu yang lama untuk terurai dalam sistem pencernaan, sedangkan protein bersifat tidak stabil dan mudah terurai oleh panas pada suhu >65 C sehingga jika dipanaskan tidak berfungsi lagi.   Dalam hal ini, lagi-lagi pendapat tersebut masih berupa asumsi. Akan tetapi, memang saat ini belum ada cara yang dapat diandalkan untuk menguji makanan RG yang bersifat allergen, sehingga kasus ini masih berupa prediksi yang belum jelas kesimpulannya. 
 
3. Kekhawatiran terhadap kemungkinan menyebabkan bakteri pada tubuh manusia dan tahan antibiotik.  

Kekhawatiran lain muncul pada tanaman yang diintroduksi antibiotik Kanamicyn R (Kan R), diduga menyebabkan bakteri dalam tubuh menjadi resisten antibiotik. Hal ini dibantah oleh penulis yang berpendapat bahwa kemungkinan terjadinya resistensi tersebut kecil karena sedikit probabilitas terjadinya transfer horizontal gen Kan-R dari tanaman ke usus manusia. Selain itu, penulis berpendapat bahwa gen Kan R tersebut sudah terinkorporasi ke dalam genom tanaman, sedangkan tanaman tidak memiliki mekanisme transfer gen ke dalam sel bakteri. Penulis mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa resistensi antibiotika pada kasus tersebut,  bukan disebabkan oleh konsumsi tanaman transgenik, namun karena adanya residu antibiotik yang berlebihan pada air susu sapi yang diminum. Sebelumnya, sapi tersebut disuntik hormon rBST (hormon peningkat produksi air susu sapi). Meskipun begitu, masih terdapat kejanggalan lagi, yakni tidak dicantumkannya sitasi peneliti yang dimaksud. Dengan demikian, pendapat ini  belum cukup kuat untuk mendukung keberadaan tanaman transgenik. 

Terhadap berbagai pendapat ini, maka muncul pertanyaan:

Sebenarnya amankah produk transgenik untuk dikonsumsi?                     

 Sampai saat ini belum ada laporan ilmiah di Indonesia yang membuktikan mengenai bahaya produk transgenik, selain reaksi alergis (produk ini telah ditarik dari pasaran). Sehingga,sampai saat ini, tanaman transgenik masih layak untuk dikonsumsi. Akan tetapi, memang diakui bahwa publikasi mengenai resiko makanan produk RG terhadap hewan dan manusia, masih sangat sedikit. Padahal mungkin sebenarnya dampak negatif konsumsi tanaman transgenik sudah banyak terjadi di masyarakat hanya saja tidak banyak data yang membuktikannya. Di negara maju seperti Amerika, urusan mengenai produk RG ditangani oleh FDA (Badan Makanan dan Obat-Obatan Amerika). Pihak FDA ini membuat pedoman keamanan pangan melalui telaah ulang produk transgenik, dengan didasarkan uji reaksi sifat alergen-non alergen, analisis nutrisi, sifat potensial toksisitas-non toksisitas, sifat fenotip dan reaksi molekuler. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tanaman transgenik yang diproduksi saat ini masih dalam tahap uji coba, sehingga untuk mengkonsumsinya, dibutuhkan sikap kritis dan ketelitian masyarakat dalam mencari informasi dan penggunaannya.

Sejak ditemukannya tanaman transgenik, masyarakat mulai khawatir akan akibat yang sangat berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Pada era ini dimana banyak orang menganggap sesuatu yang “alami” hampir sama dengan keaamanan, anggapan tersebut menyebabkan tanaman transgenik tersebut dianggap sebagai tanaman yang tidak alami dan pasti akan menimbulkan bahaya. Para aktifis lingkungan gencar memprotes perusahaan-perusahaan yang memproduksi tanaman yang dimodifikasi secara genetik.

Beberapa kekawatiran tersebut telah mengguncang dunia industri tanaman. Pada tahun 2002, para petani yang memprotes tanaman kentang di barat daya telah menghentikan pembelian tanaman kentang yang dimodifikasi secara genetik. Selama ini tidak pernah terlihat tanda-tanda bahwa kentang-kentang yang dibuat atau diolah agar tahan terhadap hama tersebut menjadi berkualitas lebih rendah atau berbahaya. Bentuk dan rasa kentang-kentang transgenik ini sama seperti kentang-kentang biasa. Bahkan untuk mengembangkan kentang transgenik ini para petani kentang tidak memerlukan bahan kimia dalam menumbuhkannya. Kentang-kentang tersebut mampu bertahan hidup melawan serangga-serangga kecil dan hama kentang namun hal ini bukanlah opini yang hangat dibicarakan di masyarakat.

• Kekhawatiran Terhadap Kesehatan Manusia.
Semua jenis tanaman terdiri dari DNA. Ketika anda mengunyah wortel atau menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil, pada dasarnya anda tidak menyadari bahwa anda sedang memakan beberapa gen. Para penentang rekayasa sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat untuk menentang atau melawan teknologi tersebut. Hanya saja mereka khawatir dan takut terhadap efek samping dari gen asing yang membentuk potongan-potongan DNA yang tidak lazim (alami) ditemukan disuatu tanaman. Sebuah jurnal penelitian yang dimuat di salah satu jurnal obat-obatan inggris pada tahun 1996 telah menginformasikan paling tidak beberapa kekhawatiran atau ketakutan tersebut. Di dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa kacang kedelai yang mengandung gen kacang brazil dapat memicu alergi pada para konsumen kedelai yang sensitif pada kacang brazil. Karena penemuan itulah jenis kacang transgenik tidak pernah dipasarkan.

Kita bisa melihat peristiwa ini dari dua sudut pandang yang berbeda. Para penentang menyatakan bahwa kasus kacang kedelai ini telah menunjukkan kegagalan bioteknologi. Mereka memprediksi bahwa banyak hal yang akan terjadi jika protein asing akan memicu reaksi yang berbahaya pada konsumen yang tidak diduga sebelumnya. Sedangkan para pendukung bioteknologi menganggap ini adalah sebuah sejarah kesuksesan karena sistem yang mereka ciptakan telah berhasil mendeteksi bahaya yang dapat ditimbulkan sebelum produk tersebut dapat dipasarkan kepada masyarakat

Pada saat ini banyak ahli menyetujui bahwa produk makanan yang dimodifikasi secara genetik tidak menyebakan menyebarnya reaksi alergi pada tubuh. Menurut laporan terkini dari Asosiasi Medis Amerika, hanya sedikit protein yang dapat memicu munculnya reaksi alergi. Para ilmuwan pun sudah mengenali protein-protein tersebut. Keanehan dari penyebab alergi yang tidak dikenali itu dimana menelusup pada makanan yang telah dimodifikasi secara genetik sangatlah jarang terjadi apalagi di tempat grosir. Pada kenyataannya, suatu saat nanti bioteknologi pasti akan mampu mencegah alergi yang dapat menyebabkan kematian. Para peneliti sekarang sedang bekerja keras untuk menghasilkan kacang dengan sedikit kandungan protein yang dapat mengacaukan atau memberantas reaksi alergi Dalam hal ini, alergi bukanlah satu-satunya yang diperbincangkan. Beberapa ilmuwan telah berspekulasi bahwa gen resisten anti biotik yang digunakan sebagai tanda pada beberapa tanaman transgenik dapat menyebar melalui penyakit yang disebabkan bakteri oleh bakteri pada manusia. Secara teori bakteri tersebut akan semakin kuat dan sulit diatasi. Untungnya bakteri-bakteri tersebut tidak menyerang gen makanan kita secara reguler dan terus-menerus. Menurut sebuah laporan penelitian pada jurnal sains terkini, hanya ada sedikit kesempatan bagi gen resisten antibiotik untuk berpindah dari tanaman ke bakteri. Bahkan sudah banyak bakteri yang sudah berkembang menjadi gen resisten antibiotik.

Jika anda perhatikan mengenai literatur anti bioteknologi, anda akan banyak mendapat kecaman-kecaman. Berita utama seperti “Makanan Hantu Bisa Menyebabkan Kanker” muncul dimana-mana. Namun sampai saat ini protes-protes tersebut tidak didukung oleh sains. Akademi sains akhir-akhir ini melaporkan bahwa hasil panen bahan pangan transgenik pada pasar sangatlah aman untuk dikonsumsi manusia.

• Kekhawatiran terhadap lingkungan
Seperti yang telah dibahas pada bagian pestisida genetik, telah disebutkan bahwa penelitian akhir-akhir ini telah menyerah atas kekhawatiran tersebut. Hal ini dikarenakan oleh sebuah peristiwa bahwa jagung dari hasil rekayasa bioteknologi telah membunuh sejumlah kupu-kupu monarch. Bagaimanapun juga kekawatiran terhadap lingkungan itu tidak bisa hilang. Salah satu hal yang pasti bahwa perkembangan genetika pada hasil panen terbukti dapat mengembangbiakan bibit super. Seperti gen antibiotik resisten , secara teori dapat menyebar dari tanaman ke bakteri, gen untuk pestisida dan herbisida resisten juga berpotensi menyebar ke bibit. Beberapa hasil panen seperti squash, canola, dan bunga matahari adalah benih-benih yang berhubungan dekat dan perkawinan silang pun sering terjadi sehingga gen dari suatu tanaman bercampur dengan gen tanaman lainnya. Bagaimanapun juga saat ini beberapa ahli memprediksikan jenis eksplosi genetik apapun untuk mengembangkan benih. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur kemungkinan bahaya yang timbul dan menemukan cara meminimalkan resikonya.
 
Potensi kerusakan ekologi yang disebabkan oleh perkembangan bioteknologi hasil panen harus dipertimbangkan secara hati-hati atas untung ruginya. Pertama dan yang paling penting adalah bioteknologi harus mampu mengurangi bahan kimia dalam pestisida. Menurut Pusat Kebijakan Makanan dan Agrikultur nasional petani yang menanam benih kapas bioteknologi pada sekitar tahun 1998 diberi ganti rugi atas pestisida yang mereka gunakan senilai lebih dari satu juta pounds.Secara keseluruhan bioteknologi tidak membawa kita kedalam bencana ekologi. Bahkan Akademi Sains Nasional akhir-akhir ini telah melaporkan bahwa perkembangan hasil panen produk bioteknologi mempunyai lebih sedikit gangguan pada lingkungan dibandingkan dengan hasil panen tradisional.

• Regulasi
Bioteknologi bukanlah pioneer yang tidak memiliki kekuatan hukum seperti yang telah kita ketahui. Beberapa agensi yang berbeda telah meregulasi produksi dan pemasaran produk makanan transgenik (makanan yang telah dimodifikasi secara genetik). FDA (Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan) telah meregulasi makanan di pasaran, Departemen Pertanian Amerika mengawasi praktek pertumbuhannya dan agen perlindungan lingkungan mengontrol penggunaan protein B+ dan pestisida lainnya. Pendekatan agensi-agensi ini telah berubah selama bertahun-tahun. Khususnya agensi FDA namun mereka selalu aktif dalam aktifitas panenan.Pada tahun 1992 yang merupakan awal revolusi bioteknologi, FDA mengumumkan bahwa secara genetik pilihan produk pangan akan diregulasikan menggunakan standar yang sama dengan produk pangan lainnya, tidak lebih dan tidak kurang. Meskipun produk-produk tersebut tidak terlihat oleh hukum, perusahaan produk pangan secara sukarela telah mengkonsultasikan produk yang akan dipasarkan kepada FDA sebelum memasarkan produk-produknya. Pada tahun 2001 agensi mengusulkan pendekatan yang lebih disiplin dan formal. Dengan rancangan aturan bahwa perusahaan akan memberitahukan kepada FDA minimal 120 hari sebelum produk tersebut dipasarkan. Para penyuplai juga harus menyertai bukti bahwa produk baru tersebut tidak lebih berbahaya dari produk lama yang digantikannya.Di indonesia, telah ada badan hukum POM yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan, badan inilah yang mengawasi kelayakan keamanan dari produk-produk makanan yang beredar di pasaran. Badan ini berfungsi selain sebagai kontrol juga sebagai filter terhadap produk-produk baru, sehingga produk yang beredar di pasaran benar-benar memang produk yang aman untuk dikonsumsi.Selain dengan adanya badan POM, semua produk pangan yang akan dipasarkan harus memiliki izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Referensi: Dicomot dari Berbagai sumber




0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot