Wednesday, October 14, 2009

Tujuan Konseling

Tujuan Konseling

Pengelompokan lain tujuan-tujuan konseling adalah didasarkan atas bidang-bidang kemungkinan bantuan yang akan ditawarkan kepada klien, disamping pantulan falsafah konselor didalamnya. Penampilan ragam statemen tujuan konseling adalah penting untuk lebih memahami bidang-bidang konseren yang mungkin ditangani konselor dan beberapa falsafah yang melandasinya. Adapun beberapa statemen tujuan konseling yang sering dicapai oleh beberapa pakar, dikemukakan oleh Shertser dan Stone bahwa perubahan perubahan tingkah laku , kesehatan mental positif, pemecahan masalah, keefektifan pribadi, dan pembuatan keputusan.
Berikut tujuan-tujuan konseling berdasarkan ragam dan statemennya:

A.Kesehatan Mental Positif
Konselor yang berkecondong efektif menyatakan bahwa pemeliharaan atau mendapatkan mental sehat merupakan tujuan konseling. Jika mental sehat dicapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif terhadap orang lain. Di sini individu belajar menerima tanggung jawab, jadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku.

Beberapa pakar memandang bahwa tujuan konseling adalah pencegahan terhadap timbulnya masalah-masalah jenis tertentu. Konseling mengidentifikasi dan merawat orang yang memiliki kemungkinan besar mengidap sakit jiwa akibat masalah tertentu dan berat yang dihadapinya. Dalam hal ini, konseling hanya merupakan prophylactic dalam arti mencegah masalah ringan agar tidak berkembang jadi lebih parah. Tujuan ini diistilahkan oleh S Naryana Rao sebagai Achievement of Positive Mental Health.

B.Keefektifan Pribadi
Statemen lain tujuan konseling yang erat hubungannya dengan kesehatan mental, berorientasi afektif dan agak condong ke orientasi kognitif adalah keefektifan pribadi. Pengertian pribadi efektif menurut Blocher adalah:
1).Pribadi yang tampak menyelaraskan diri dengan cita-cita, memanfaat waktu dan tenaga dan bersedia mengambil tanggung jawab ekonomi,psikologis dan fisik.
2).Orang yang punya pribadi demikian tampak mempunyai kemampuan mengenal, merumuskan dan memecahkan masalah-masalah.
3).Orang yang demikian tampak relative ajeg atau konsisten dalam menjalani situasi khusus peranannya.
4).Orang demikian itu Nampak dapat berfikir lain dan asli yaitu secar kreatif.
5).Orang demikian itu mampu mengontrol dorongan-dorongan dan melakukan respons yang tepat terhadap ffrustasi , permusuhan dan pertentangan.

Shoben memandang pula perkembangan pribadi sebagai tujuan konseling. Dia menunjukan pula kecondongan tujuan ini pada konseling orientasi kognitif ketika menyatakan bahwa konseling merupakan suatu pengelaman perkembangan dalam mana pemecahan masalah  dan pengambilan keputusan memelihara pertumbuhan pribadi.

C.Pembuatan Keputusan
Para konselor yang condong pada orientasi kognitif, sedikit masih ada unsure afektifnya, menyatakan tujuan konseling sebagai pembuatan keputusan mengenai hal-hal genting bagi seluruh konseli. Dalam hal ini,konselor tidaklah menetapkan keputusan-keputusan yang akan dibuat konseli ataupun memilihkan cara alternative bagi tindakan konseli. Konseli harus tahu mengapa dan bagaimana ia membuat keputusan. Ia  belajar memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul berkenaan dengan pengorbanan pribadi, waktu,  tenaga, uang dan resiko resiko lainnya. Williamson menjelaskan mengenai hal ini, bahwa konselor membantu siswa memilih tujuan-tujuan dengan tingkat kepuasan tertinggi yang dapat dicapai dalam keterbatasan factor-faktor lingkungan maupun factor-faktor pribadi klien.

D.Perubahan Tingkah-laku

Inilah pertanyaan tujuan-tujuan konseling yang paling banyak dipakai orang akhir-akhir ini. Para pakar konseling ada yang memadukan antara tujuan-tujuan berkenaan dengan perubahan struktur pribadi sampai pada perubahan perilaku tampak, ada yang ketat terpaku hanya pada perubahan perilaku tampak saja. Perubahan tingkah-laku sebagai tujuan konseling mungkin terbatas khusus seperti perubahan respon khusus terhadap frustasi ataupun perubahan-perubahan sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri.



0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot