Saturday, July 4, 2009

SISTEM TATA NAMA MAKHLUK HIDUP

Untuk memudahkan komunikasi antar ilmuwan biologi mengenai jenis makhluk hidup maka Carolus Linnaeus pada tahun 1735 menciptakan sistem tata nama. Bahasa yang digunakan oleh Linnaeus dalam sistem tata nama adalah bahasa latin. Bahasa latin dipilih karena pada masa Linnaeus bahasa tersebut adalah teks ilmiah yang universal. Sistem tata nama terdiri dari dua bagian yaitu bagian pertama sebagai genius dan bagian kedua sebagai penunjuk spesies.
Sistem penamaan yang terdiri dari dua bagian ini disebut sistem tata nama ganda nomenelature (latin bi = dua, nomen = nama). Pengelompokkan dilakukan ke tingkatan paling rendah yaitu spesies sampai ke tingkatan yang paling tinggi yaitu kingdom (kerajaan).
  1. Spesies
    Spesies atau jenis merupakan takson yang menjadi satuan atau unit dasar klasifikasi. Dua organisme atau lebih dimasukkan dalam satu spesies yang sama jika organisme tersebut dapat melakukan perkawinan alami dan menghasilkan keturunan yang kotil. Contohnya padi, jagung, kedelai, sapi, kambing, semut rangrang dan rayap.
    Keturunan kotil artinya keturunan (anak-anak) yang dihasilkan dapat kawin dengan sesamanya dan dapat menghasilkan anak.
    Dalam satu spesies terdapat varietes dan ras. Istilah varietas digunakan untuk tumbuhan dan istilah ras digunakan untuk hewan. Pemberian nama dengan dua kata dikenal dengan istilah binomial nomenklatur. Ketentuan penamaan tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Nama spesies terdiri dari kata dalam bahasa latin nama yang dilatinkan misalnya Bambusa spinosa (bambu berduri), Corica popaya (pepaya) dan Oryza sativa (padi).
    2. Nama pertama menunjukkan nama genus oleh sebab itu huruf pertama menggunakan kapital, misalnya Bambusa, Corica, Oryza.
    3. Nama kedua merupakan nama spesifik atau penunjuk jenis yang huruf awal ditulis dengan huruf kecil, misalnya spinosa, pepaya, sativa.
    4. Nama spesies dicetak miring atau digaris bawah atau dicetak dengan huruf yang berbeda dengan teks yang lain misal Oryza sativa (padi) Tamarundes indica (asam) Monyitera indica (mangga).
    5. Nama ilmiah seperti Oryza sativa belum lengkap. Nama ilmiah yang lengkap perlu mencantumkan nama penulis. Contoh Salanun Torvan L (Takohah). L merupakan singkatan dari Corolus Linnaeus.
  2. Genus (Marga)
    Genus adalah tingkatan takson yang memiliki beberapa spesies sebagai anggotanya. Misalnya anjing dan srigala berbeda genus tapi mereka satu jenis yaitu jenis Conis. Toenia saginata dan Toenia, Corica, Oryza merupakan genus.
  3. Famili (Suku)
    Famili merupakan tingkatan takson yang terdiri dari beberapa genus, misalnya conidae (keluarga anjing).
  4. Ordo (Bangsa)
    Ordo merupakan tingkatan takson yang menghimpun beberapa famili.
  5. Clasis (Klas)
    Merupakan beberapa ordo yang memiliki persamaan ciri dimasukkan ke dalam satu klas.
  6. Phylum (Filum) atau Devisio (Devisi)
    Filum merupakan tingkatan takson yang menghimpun beberapa klas memiliki persamaan ciri-ciri. Filum atau Devisi digunakan untuk menunjuk suatu kelompok makhluk hidup yang sebagian besar cirinya sama.
Umumnya filum digunakan untuk menunjukkan takson hewan, sedangkan divisi digunakan untuk menunjukkan takson tumbuh-tumbuhan.
Di atas filum dan divisi terdapat tingkatan yang paling tinggi yaitu kingdom (kerajaan/ negnum atau dunia). Semua hewan dimasukkan dalam kingdom animalia, semua tumbuhan dimasukkan dalam kingdom plantae.
Di antara tingkatan-tingkatan takson tersebut kadang-kadang masih ada tingkatan yang disebut sub (anak) misalnya antara filum dan klas terdapat sub filum, antar ordo dan familia terdapat sub ordo (anak bangsa) dan lain-lain.

0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot