Tuesday, June 9, 2009

SEBARAN IKAN LAYUR

BIOLOGI, HABITAT DAN SEBARAN IKAN LAYUR SERTA BEBERAPA ASPEK PERIKANANNYA

Ikan layur adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting yang banyak tersebar dan tertangkap di perairan Indonesia. Dewasa ini paling tidak terdapat tiga jenis ikan layur, yaitu Eupluerogrammus muticus, Trichiurus lepturus dan Lepturacanthus savala. Perairan dengan dasar yang relatif rata dan berlumpur dengan salinitas yang relatif rendah biasanya merupakan habitat ikan layur. Dari beberapa pengamatan tentang sebaran ikan layur di pantai selatan Jawa diperoleh informasi bahwa ikan layur di Teluk Pelabuhan Ratu-Binuangeun dan Cilacap umpamanya, tertangkap pada perairan pantai di sekitar muara-muara sungai yang relatif dangkal.

Secara umum trend dari catch, effort dan CPUE periode 1992-2000 baik untuk perikanan layur baik di perairan pantai selatan Jawa Timur ataupun selatan Jawa menunjukkan sedikit naik. Jika dilihat secara terpilah-pilah tampak bahwa untuk periode 1998-2000 trend indikator perikanan layur di selatan Jawa Timur mengikuti pola umum perikanan yang dieksploitasi, dimana naiknya total effort diikuti naiknya catch sedangkan CPUE terlihat menurun. Keadaan yang sama terjadi terhadap perikanan layur di selatan Jawa, yaitu antara periode 1997-2000.

Seberapa jauh penurunan CPUE tersebut masih dapat ditolerir antara lain akan tergantung kepada kelayakan usaha perikanan layur pada tingkat tersebut. Jadi, pada tingkat CPUE berapa, usaha perikanan layur tersebut masih dapat menguntungkan. Puncak musim penangkapan di perairan selatan Jawa terjadi menjelang akhir tahun sampai awal tahun berikutnya. Ikan layur mecapai matang gonad pada umur dua tahun dan umur maksimum dapat mencapai 15 tahun.


IKAN LAYUR DAN KOMUNITAS DEMERSAL
Jenis-jenis ikan demersal di perairan Paparan Sunda yang pernah tercatat adalah sekitar 50 famili yang terdiri dari sekitar 250 spesies, sehingga perikanan demersal di wilayah tropis bersifat multispecies. Ikan layur merupakan salah satu kelompok (species group) dalam komunitas sumber daya demersal. Dengan demikian keberadaan populasi ikan layur akan terlibat dalam proses-proses dinamika dalam komunitas ikan demersal, seperti interaksi biologis antar jenis. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah antar hubungan pemangsaan (predator-prey relationship) dan persaingan makanan (food competetion).

Salah satu perilaku ikan layur adalah ‘voracious’ atau sangat ‘rakus’, sehingga dalam suatu komunitas tertentu ikan layur dapat merupakan ‘top predator’ yang memperebutkan makanannya berupa ikan-ikan berukuran kecil dengan ikan-ikan predator lainnya.

Data sumberdaya ikan layur yang dianalisis merupakan sebagian hasil penelitian yang dilakukan di perairan selatan Jawa, Samudera Hindia (Badrudin, 2003). Data dan informasi tentang aspek-aspek biologi (life history dan dinamika populasi) ikan layur dikumpulkan melalui kajian literatur dan Fish Base dari FAO-ICLARM. Data catch dan effort dikumpulkan dari Statitik Perikanan Indonesia (Anonimous, 1994 - 1999) dan Statistik

Perikanan Tangkap Indonesia (Anonimus, 2000-2003). Analisis yang dilakukan, disiapkan untuk aplikasi model produksi surplus yang mengarah kepada teridentifikasinya trend dari indeks kelimpahan stok sumberdaya ikan layur antara tahun 1992-2000. Analisis lebih lanjut dapat mengarah kepada diperolehnya dugaan hasil tangkapan maksimum yang berkelanjutan (MSY, the maximum sustainable yield) mengikuti prosedur Sparre and Venema (1992).

Secara taxonomi ikan layur termasuk ke dalam famili Trichiuridae. Dalam famili Trichiuridae terdapat sekitar 10 genera, yaitu Diplospinus, Aphanopus, Benthodesmus, Lepidopus, Epoxymetopon, Assurger, Tentoreiceps, Eupluerogrammus, Trichiurus dan Lepturacanthus. Yang disebut ikan layur yang tertangkap di perairan Indonesia, paling tidak tercatat tiga genera, yaitu Eupluerogrammus, Trichiurus dan Lepturacanthus, dengan species-speciesnya adalah Eupluerogrammus muticus, Trichiurus lepturus dan Lepturacanthus savala. Dalam beberapa literatur, ketiga genera tersebut dimasukkan ke dalam satu genus yaitu Trichiurus, dengan spesiesnya adalah T. muticus, T. savala dan T. lepturus atau T. haumela (FAO, 1974).
Perbedaan spesies tersebut didasarkan atas perbedaan taxonomis seperti diameter mata terhadap panjang kepala, sirip dada (pectoral), sirip perut (pelvic) dan sirip dubur sebagaimana disajikan pada tabel berikut.
Secara visual perbedaan antara satu spesies dengan spesies lainnya hampirhampir tidak tampak. Ciri utama dari kelompok ikan layur antara lain adalah: Badanya sangat memanjang dan pipih seperti pita. Oleh karena itu dalam beberapa literatur internasional ikan layur disebut sebagai ‘ribbon fish’. Gigi rahangnya sangat kuat dan bagian depan gigi rahang tersebut membentuk taring. Sirip punggung memanjang, mulai dari belakang kepala sampai mendekati ujung ekor.

Pada bagian depan sirip punggung terdapat jari-jari sirip keras. Kadang-kadang antara kedua sirip punggung yang keras dan sirip lemah terdapat notch yang sangat jelas. Warna badannya pada umumnya adalah keperakan, bagian punggungnya agak sedikit gelap.
Panjang badan maksimum dapat mencapai 2,5 m dan pada umumnya antara 60-110 cm.

Kebiasaan makan dan makanan (food and feeding habit) merupakan salah satu aspek ‘life history’ yang menjadi dasar dalam kajian interaksi antar jenis, baik melalui kajian antar hubungan pemangsaan (predator prey relationship) ataupun persaingan makanan (food competition).

Melihat morfologi kepala, mulut dan gigi-gigi ikan layur tidak diragukan lagi bahwa ikan layur adalah ikan predator yang kebiasaan makanannya adalah hewanhewan berkuran lebih kecil. Jenis-jenis makanan ikan layur meliputi euphausid (udang-udang berukuran kecil seperti rebon, larva udang penaeid), ikan-ikan berukuran kecil (seperti; teri, sardin, myctophids, bregmacerotids, carangoids, sphyraenids, atherinids, sciaenids, scombrids, larva/yuwana ikan layur ) dan cumicumi berukuran kecil.

Perilaku kebiasaan makan ikan layur dewasa dan layur anakannya (yuwana, juvenile) berhubungan erat dengan kebiasaan migrasi vertikal (diurnal – siang; nocturnal - malam) mempunyai sifat yang berlawanan. Pada siang hari layur dewasa biasanya bermigrasi vertikal ke dekat permukaan untuk mencari makan dan kembali bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari. Ikan layur anakannya yang berukuran kecil akan membentuk gerombolan (schooling) mulai dari dasar sampai ke dekat permukaan pada siang hari dan pada malam hari menyebar dan mengelompok untuk mencari makan sampai ke dekat permukaan.

Hasil kajian kebiasaan makanan dan interaksi antar jenis ikan dapat merupakan salah satu dasar bagi pengelolaan sumberdaya ikan layur sebagai salah satu unsure dalam komunitas demersal yang bersifat multispecies. Ecopath sebagai salah satu model stock assessment yang dirancang untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimal dan berlanjut dalam jangka panjang didasarkan atas kajian interaksi antar jenis. Dalam rangka mengetahui pengaruh-pengaruh penangkapan, opsi-opsi langkah pengelolaanpun dapat di-uji-cobakan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Jones (1982) bahwa melalui kajian aspek kebiasaan makanan tersebut dapat diprediksi bahwa dalam perkembangan / pertumbuhan ikan pada umumnya, akan memerlukan makanan (berupa ikan lainnya) sekitar 25% dari berat tubuhnya (Jones, 1982). Implikasi dari kajian tersebut antara lain adalah bahwa jika diketahui produksi ikan layur yang didaratkan di pantai selatan Jawa Timur umpamanya 1000 ton pertahun, maka ikan layur tersebut akan memerlukan makanan berupa ikan lainnya sebanyak 250 ton.


Hubungan Panjang - Berat
Manfaat dari informasi tentang hubungan panjang-berat antara lain adalah bahwa melalui persamaan matematik tersebut ( W = a * L b ) kita dapat memperkirakan berat ikan layur pada panjang tertentu atau sebaliknya. Nilai b dalam hubungan panjang-berat ikan layur berada antara 2-4 . Jika nilai b = 3 disebut isometrik, dan jika b ? 3 disebut allometrik. Kecuali ikan layur dari perairan Indonesia dimana nilai b = 2,969 (yang secara statistik b = 3) tampak bahwa kemungkinan besar pertumbuhan ikan layur yang ada di berbagai belahan dunia lainnya lebih bersifat allometrik positif dimana nilai b > 3 (Tabel 1).
Dilihat dari aspek aplikasi model analitik, besarnya nilai isometrik atau allometrik tersebut akan menentukan jenis model pengkajian stok yang dapat diterapkan yang mengarah kepada diperolehnya hasil tangkapan maksimum yang berkelanjutan. Selajutnya perlu diinformasikan bahwa ukuran berat maksimum yang pernah tercatat adalah 3,69 kg dengan panjang 234 cm. Ikan tersebut tertangkap dengan pancing di Teluk Guanabara, Rio de Janeiro, Brazil yang kemudian dianggap sebagai ‘angling world record’ (Fishbase, 2002).



0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2009 - 2012 Media Pembelajaran is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot